Tegal — Pembelajaran di perguruan tinggi tidak selalu berhenti pada penyampaian teori. Ruang akademik juga dapat menjadi tempat untuk mempertemukan gagasan, pengalaman praktis, dan pendekatan baru yang relevan dengan kebutuhan dunia pendidikan.
Hal tersebut terlihat dalam kegiatan Kuliah Umum “Literasi Numerasi Menggunakan Metode Hipnoteaching” yang diselenggarakan oleh Program Studi S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Harkat Negeri. Kegiatan tersebut berlangsung pada 25 Juni 2026 di Aula Kampus Mataram, Universitas Harkat Negeri, Tegal.
Kuliah umum tersebut menghadirkan dua narasumber, yaitu Anwar Ardani, M.Pd, Kaprodi S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Peradaban, dan Aziz Aminudin, S.Kom, M.Pd, praktisi pendidikan, trainer, sekaligus profesional hipnoterapis.
Ketika Literasi Numerasi Tidak Hanya Berbicara tentang Angka
Literasi numerasi sering kali dipahami secara sederhana sebagai kemampuan membaca, memahami, dan menggunakan angka dalam kehidupan sehari-hari.
Namun dalam proses pendidikan, kemampuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan materi yang disampaikan guru. Cara guru berkomunikasi, membangun perhatian peserta didik, menciptakan suasana belajar, dan membantu siswa memiliki pengalaman positif terhadap pembelajaran juga menjadi bagian penting dari proses pendidikan.
Di sinilah hipnoteaching menjadi menarik untuk diperbincangkan.
Hipnoteaching dapat dipahami sebagai pendekatan yang memanfaatkan prinsip-prinsip komunikasi, perhatian, sugesti, dan kondisi belajar untuk mendukung proses pembelajaran. Konsep tersebut tidak berarti bahwa guru harus “menghipnosis” siswanya dalam pengertian pertunjukan hipnosis.
Sebaliknya, pembahasannya lebih dekat dengan pertanyaan:
Bagaimana seorang pendidik dapat membangun kondisi belajar yang membuat siswa lebih siap memperhatikan, memahami, dan mengikuti proses pembelajaran?
Guru Bukan Sekadar Penyampai Materi
Perkembangan dunia pendidikan membuat peran guru semakin kompleks.
Guru tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga perlu mampu berkomunikasi dengan peserta didik yang memiliki karakter, pengalaman, gaya belajar, dan kebutuhan yang berbeda.
Dalam konteks tersebut, keterampilan komunikasi menjadi bagian penting dari kompetensi pendidik.
Pemilihan kata, intonasi, bahasa tubuh, cara memberikan instruksi, penggunaan cerita, hingga kemampuan membangun hubungan positif dengan siswa dapat memengaruhi suasana pembelajaran.
Karena itu, pembahasan hipnoteaching di lingkungan perguruan tinggi menjadi menarik, terutama bagi mahasiswa calon guru sekolah dasar yang kelak akan berhadapan langsung dengan anak-anak dalam proses pembelajaran.
Bukan Mengajarkan Guru untuk Menghipnosis Siswa
Salah satu hal yang penting diluruskan adalah bahwa pembelajaran mengenai hipnoteaching tidak seharusnya dimaknai sebagai upaya mengajarkan guru untuk mengendalikan pikiran siswa.
Pendidikan tetap menempatkan peserta didik sebagai individu yang memiliki kehendak, pengalaman, dan kemampuan untuk berpikir.
Penggunaan prinsip komunikasi dan sugesti dalam pembelajaran justru perlu ditempatkan secara etis dan proporsional.
Tujuannya bukan membuat siswa kehilangan kendali, tetapi membantu menciptakan komunikasi pembelajaran yang lebih efektif dan suasana belajar yang mendukung.
Pemahaman seperti ini juga membantu masyarakat membedakan antara hypnosis yang sering ditampilkan dalam hiburan dengan pemanfaatan prinsip komunikasi dalam konteks pendidikan.
Dari Kampus untuk Praktik Pendidikan
Kuliah umum seperti ini memiliki arti penting karena mahasiswa calon pendidik tidak hanya memperoleh materi dari buku atau ruang kelas, tetapi juga dapat berinteraksi dengan praktisi yang memiliki pengalaman di lapangan.
Kehadiran praktisi pendidikan sekaligus profesional hipnoterapi dalam kegiatan tersebut membuka ruang dialog mengenai bagaimana konsep-konsep yang berkaitan dengan pikiran, komunikasi, dan perilaku dapat dibahas dalam konteks pendidikan.
Bagi mahasiswa PGSD, pembahasan semacam ini dapat menjadi perspektif tambahan untuk memahami bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh apa yang diajarkan, tetapi juga bagaimana materi tersebut dikomunikasikan kepada peserta didik.
Hipnoteaching dan Ketertarikan terhadap Dunia Hipnoterapi
Menariknya, pembahasan hipnoteaching juga dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal bahwa hypnosis memiliki bidang pembelajaran yang lebih luas.
Namun, hipnoteaching dan hipnoterapi tetap merupakan dua konteks yang berbeda.
Hipnoteaching berkaitan dengan pemanfaatan prinsip komunikasi dan hypnosis dalam konteks pembelajaran, sedangkan hipnoterapi berada dalam konteks intervensi terapeutik.
Karena itu, seseorang yang mengikuti seminar atau kuliah mengenai hipnoteaching tidak otomatis menjadi hipnoterapis.
Jika seseorang ingin mempelajari hipnoterapi secara profesional, dibutuhkan jalur pembelajaran yang lebih terstruktur dan mendalam.
MPC Training Center dan Perjalanan Belajar Hipnoterapi di Brebes
Ketertarikan terhadap hypnosis dan hipnoterapi juga berkembang di masyarakat, termasuk di Kabupaten Brebes.
MPC Training Center telah menyelenggarakan pembelajaran hipnoterapi di Brebes sejak 2012. Dalam perjalanannya, pembelajaran dikembangkan secara bertahap mulai dari Basic Hypnotherapy, Advanced Hypnotherapy hingga Professional Hypnotherapy.
MPC Training Center juga membuka kelas pelatihan secara rutin setiap bulan, sehingga masyarakat yang tertarik mempelajari bidang ini dapat memilih jalur belajar sesuai tujuan dan tingkat pemahamannya.
Bagi sebagian orang, belajar hypnosis mungkin dimulai dari rasa ingin tahu.
Bagi yang lain, bisa berkembang menjadi keterampilan komunikasi.
Dan bagi mereka yang ingin menekuni bidang hipnoterapi secara lebih serius, perjalanan tersebut dapat dilanjutkan melalui pembelajaran yang lebih mendalam dan terstruktur.
Pendidikan Membutuhkan Lebih dari Sekadar Metode
Kegiatan kuliah umum di Universitas Harkat Negeri tersebut pada akhirnya mengingatkan bahwa pendidikan selalu berkembang.
Metode pembelajaran boleh berubah. Teknologi boleh semakin maju. Berbagai pendekatan baru boleh diperkenalkan.
Namun, satu hal tetap penting: pendidik perlu memahami manusia yang sedang belajar.
Karena itu, membicarakan hipnoteaching bukan sekadar membicarakan hypnosis.
Lebih jauh, pembahasannya menyentuh persoalan komunikasi, perhatian, hubungan guru dan siswa, suasana belajar, serta bagaimana seorang pendidik menyampaikan pesan dengan cara yang lebih mudah diterima.
Dari ruang kuliah di Tegal, pembahasan tersebut menjadi contoh bagaimana dunia akademik dapat membuka ruang bagi pertemuan antara teori, praktik, dan perspektif baru dalam pendidikan.
Dan bagi calon guru, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar:
“Bagaimana cara membuat siswa fokus?”
Tetapi:
“Bagaimana saya sebagai guru dapat menciptakan pengalaman belajar yang membuat siswa ingin memperhatikan, memahami, dan terus belajar?”




